-->


"Kami tidak lebih hanyalah para penuntut ilmu yang fakir dan hina. Berjalan Keluar masuk melewati jalan-jalan di belantara mazhab. Di sini berhati-hatilah, siapa saja bisa tersesat dan berputar-putar dalam kesia-siaan. Banyak papan nama, baik yang baru dipasang atau yang sudah lama ada. Memilih jalan ini begitu mudah dan bahkan membanggakan bagi siapa saja yang tidak teliti. Akhirnya yang kami pilih adalah jalan dengan 'papan nama' yang sudah ada sejak lama. Inilah jalan kami, jalan Ahlus Sunnah Waljama'ah, jalan konservative, jalannya para pendahulu yang telah merintis dan menempuh jalan estafet dari Rosulullah SAW. Adapun jalan dengan papan nama yang baru dipasang kami ucapkan selamat tinggal. Biarkan kami memilih jalan ini, jalan tradisi Islam turun temurun yang sambung menyambung sanad: murid dari guru, dari guru, dari guru.... dari Salafunas Sholih, dari tabi'ut tabi'in, dari tabi'in, dari sahabat, sumbernya langsung sampai ke Baginda Rosulullah SAW.
Inilah jalan kami.... Ahlussunnah Waljama'ah.


Cari Blog Ini

Kamis, 05 April 2012

بِسْــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيم


Kepemimpinan Rasulullah SAW

Kanjeng Nabi Muhammad SAW. adalah pemimpin dunia yang terbesar sepanjang sejarah. Karena hanya dalam waktu 23 tahun (kurang dari seperempat abad), dengan biaya kurang dari satu persen biaya yang dipergunakan untuk revolusi Perancis dan dengan korban kurang dari seribu orang. Beliau telah menghasilkan tiga karya besar yang belum pernah dicapai oleh pemimpin yang manapun di seluruh dunia sejak Nabi Adam as. sampai sekarang. Tiga karya besar tersebut adalah:

 تَوْحِيْدُ الإِلهِ (mengesakan Tuhan)

Nabi Besar Muhammad saw. telah berhasil menjadikan bangsa Arab yang semula mempercayai Tuhan sebanyak 360 (berfaham polytheisme) menjadi bangsa yang memiliki keyakinan tauhid mutlak atau monotheisme absolut.

تَوْحِيْدُ الأُمَّةِ (kesatuan ummat)

Nabi Besar Muhammad saw. telah berhasil menjadikan bangsa Arab yang semua selalu melakukan permusuhan dan peperangan antar suku dan antar kabilah, menjadi bangsa yang bersatu padu dalam ikatan keimanan dalam naungan agama Islam.

تَوْحِيْدُ الْحُكُوْمَةِ (kesatuan pemerintahan)

Nabi Besar Muhammad saw. telah berhasil membimbing bangsa Arab yang selamanya belum pernah memiliki pemerintahan sendiri yang merdeka dan berdaulat, karena bangsa Arab adalah bangsa yang selalu dijajah oleh Persia dan Romawi, menjadi bangsa yang mampu mendirikan negara kesatuan yang terbentang luas mulai dari benua Afrika sampai Asia.

Kunci dari keberhasilan perjuangan beliau dalam waktu relatif singkat itu adalah terletak pada tiga hal:
Keunggulan agama Islam
Ketepatan sistem dan metode yang beliau pergunakan untuk berda'wah.
Kepribadian beliau.

Keunggulan agama Islam terletak pada delapan sifat yang tidak dimiliki oleh agama-agama lainnya di seluruh dunia ini, yaitu:
 Agama Islam itu adalah agama fitrah.
 Agama Islam itu adalah mudah, rational dan praktis.
 Agama Islam itu adalah agama yang mempersatukan antara kehidupan jasmani dan rohani dan antara kehidupan duniawi dan ukhrawi.
 Agama Islam itu adalah agama yang menjaga keseimbangan antara kehiduan individual dan kehidupan bermasyarakat.
 Agama Islam itu adalah merupakan jalan hidup yang sempurna.
 Agama Islam itu adalah agama yang universal dan manusiawi.
 Agama Islam itu adalah agama yang stabil dan sekaligus berkembang.
 Agama Islam itu adalah agama yang tidak mengenal perubahan.

Sistem dakwah yang dipergunakan oleh Nabi Besar Muhammad saw. adalah:
 Menanamkan benih iman di hati umat manusia dan menggemblengnya sampai benar-benar mantap.
 Mengajak mereka yang telah memiliki iman yang kuat dan mantap untuk beribadah  menjalankan kewajiban-kewajiban agama Islam dengan tekun dan berkesinambungan secara bertahap.
 Mengajak mereka yang telah kuat dan mantap iman mereka serta telah tekun menjalankan ibadah secara berkelanjutan untuk mengamalkan budi pekerti yang luhur.

Metode dakwah yang dilakukan oleh Rasulullah saw. adalah:
Hikmah, yaitu kata-kata yang tegas dan benar yang dapat membedakan antara yang hak dan yang bathil.
Nasihat yang baik.
Menolak bantahan dari orang-orang yang menentangnya dengan memberikan argumentasi yang jauh lebih baik, sehingga mereka yang menentang dakwah beliau tidak dapat berkutik.
Memperlakukan musuh-musuh beliau seperti memperlakukan sahabat karib. Keempat metode dakwah beliau di atas, disebutkan oleh Allah swt. dalam Al Qur'an  al Karim dalam surat:

An Nahlu ayat 125:

اُدْعُ اِلَى سَبِيْلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ ، وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِى هِيَ اَحْسَنُ ؛ إِنَّ رَبَّكَ  هُوَ اَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيْلِهِ ، وَهَوَ اَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِيْنَ .

"Serulah manusia kepada jalan Tuhanmu  dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang lebih baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang sesat  dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.

Surat Fushshilat ayat 34:

وَلاَ تَسْتَوِى الْحَسَنَةُ وَلاَ السَّيِّئَةُ ؛ اِدْفَعْ بِالَّتِى هِيَ اَحْسَنُ فَإِذَا الَّذِى بَيْنَكَ وَبَيْنَهُ عَدَاوَةٌ كَاَنَّهُ  وَلِيٌّ حَمِيْمٌ .

"Dan tiadalah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan) itu dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia".

Kepribadian Nabi Besar Muhammad saw. yang sangat menunjang dakwah beliau disebutkan dalam Al Qur'an sebagai berikut:
Bersikap lemah-lembut.
Selalu mema'afkan kesalahan orang lain betapapun besar kesalahan tersebu selama kesalahan tersebut terhadap pribadi beliau.
Memintakan ampun dosa dan kesalahan orang lain kepada Allah swt., jika kesalahan tersebut terhadap Allah swt.
Selalu mengajak bermusyawarah dengan para sahabat beliau dalam urusan dunia dan beliau selalu konsekwen memegang hasil kepautusan musyawarah.
Jika beliau ingin melakukan sesuatu, maka beliau selalu bertawakkal kepada Allah swt. dalam arti: direncanakan dengan matang, diprogramkan, diperhitungkan anggarannya dan ditentukan sistem kerjanya.

Kelima kepribadian Nabi Besar Muhammad saw. tersebut di atas, dituturkan oleh Allah swt. dalam surat Ali Imran ayat 159:

فَبِمَا رَحْمَةٍ مِنَ اللهِ  لِنْتَ لَهُمْ ، وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيْظَ الْقَلْبِ لاَنْفَضُّوْا مِنْ حَوْلِكَ ، فَاعْفُ  عَنْهَمْ .وَاسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِى الاَمْرِ ، فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللهِ ؛ إِنَّ اللهَ  يُحِبُّ  الْمُتَوَكِّلِيْنَ .

"Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu ma'afkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya". 
Read more »»  
بِسْــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيم


Taubat Tukang Fitnah

Ada seorang tukang fitnah yang jatuh cinta kepada seorang gadis tetangganya. Suatu hari, keluarga gadis itu mengutusnya ke kampung lain untuk suatu keperluan. Mengetahui hal itu si tukang fitnah pun mengikutinya, lalu melontarkan bujuk rayunya kepada wanita itu.
Gadis itu berkata, "Jangan kau lakukan ini! Sebenarnya cintaku padamu melebihi cintamu kepada-ku, akan tetapi aku takut kepada Allah SWT”. Laki-laki itu berkata, "Kau takut pada Allah, sementara aku tidak takut kepadaNya?" Akhirnya laki-laki itu pulang dengan perasaan penuh tobat kepada Allah SWT. Dalam per-jalanannya ia didera rasa haus yang mencekik tenggorokannya. Dalam kondisi kritis itu tiba-tiba dia bertemu dengan utusan dari seorang nabi Bani Israil dan ditanya, "Mengapa kau ini?".
"Haus," jawabnya. Utusan itu berkata, "Ke sinilah, kita berdoa kepada Allah agar awan menaungi kita hingga sampai tujuan". Laki-laki tukang fitnah itu berkata, "Aku tidak mempunyai amal kebajikan". Utusan nabi itu berkata, "Aku yang berdoa dan engkau tinggal mengamini".
Berdoalah utusan itu dan si tukang fitnah mengaminkannya. Tidak lama kemudian datang awan menaungi mereka hingga mereka tiba di kampung tujuan. Setelah sampai, si tukang fitnah memasuki rumahnya, sedangkan awan itu mengikutinya. Sebelum utusan itu pulang dia berkata, "Engkau telah mengaku tidak mempunyai amal kebajikan, padahal ketika aku berdoa dan engkau mengamin kannya, serta merta awan itu menaungi kita, kemudian aku mengikutimu agar engkau memberitahuku apa sebenarnya yang telah terjadi denganmu". Lalu tukang fitnah menceritakan kisahnya kepada utusan itu. Maka berkatalah utusan nabi itu, "Orang bertobat kepada Allah mendapat kedudukan yang dimana tidak ada seorangpun menyamai kedudukannya".
Read more »»  
بِسْــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيم


Malaikat Rahmat dan Malaikat Adzab

Pada zaman dahulu, ada seorang lelaki yang telah membunuh 99 orang. Dia ingin menjumpai pendeta untuk meminta fatwa supaya dia dapat bertaubat dari dosanya. Ketika bertemu dengannya, dia pun menerangkan bahwa dia telah membunuh 99 orang dan bertanya padanya apakah dia masih mempunyai peluang untuk bertaubat. Pendeta dengan tegas mengatakan dia tidak bisa bertaubat karena dosanya terlalu banyak. Lelaki itu mejadi marah dan langsung membunuh pendeta itu, menjadikannya mangsa yang ke seratus.
Dia masih ingin bertaubat dan terus mencari kalau-kalau ada ulama yang bisa membantunya. Akhirnya dia berjumpa dengan seorang ulama. Dia menceritakan bahwa dia telah membunuh seratus orang dan bertanya apakah Allah masih menerima taubatnya. Ulama itu menerangkan dia masih mempunyai harapan untuk bertaubat. Seterusnya dia menyuruh lelaki itu pergi ke sebuah negeri di mana terdapat sekumpulan ‘abid (orang beribadat). Apabila sampai di sana nanti, ulama itu menyuruhnya tinggal di sana dan beribadat bersama mereka. Ulama itu melarangnya pulang ke negeri asalnya yang penuh dengan kemaksiatan.
Lelaki itu mengucapkan terima kasih lalu pergi menuju negeri yang diterangkan oleh ulama tadi. Baru saja sampai setengah perjalanan, dia jatuh sakit lalu meninggal dunia.
Ketika itu terjadilah perdebatan antara dua malaikat, yaitu Malaikat Rahmat dan Malaikat Azab. Malaikat Rahmat ingin membawa roh lelaki itu ke syurga karena pendapat dia adalah orang tersebut adalah baik lantaran niatnya untuk bertaubat, sementara Malaikat Azab mengatakan dia mati dalam keadaan su'ul khatimah karena dia telah membunuh seratus orang dan masih belum mempunyai amal kebajikan sedikitpun. Mereka saling berebutan dan tidak dapat memutuskan keadaan lelaki itu.
Allah kemudian mengantar seorang malaikat lain berupa manusia untuk mengadili perdebatan mereka berdua. Dia menyuruh malaikat itu mengukur jarak tempat kejadian itu dengan kedua-dua tempat, adakah tempat kejadian itu lebih dekat dengan tempat kebajikan yang akan dituju atau lebih dekat dengan tempat asalnya yang buruk?. Sekiranya jaraknya lebih dekat dengan tempat kebajikan, dia milik Malaikat Rahmat. Sebaliknya apabila jaraknya lebih dekat dengan tempat asalnya, dia milik Malaikat Azab. Setelah diukur, didapati jarak ke negeri kebajikan melebihi ukuran sejengkal saja. Lalu roh lelaki itu terus diambil oleh Malaikat Rahmat. Lelaki itu akhirnya mendapat pengampunan Allah. 
Read more »»  
بِسْــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيم


Allah Maha Pengampun

Di zaman Nabi Musa ada seorang fasik yang suka melakukan kejahatan. Penduduk negeri tersebut tidak mampu lagi mencegah perbuatannya, lalu mereka berdoa kepada Allah. Maka Allah mewahyukan kepada Nabi Musa supaya mengusir pemuda itu dari negerinya agar penduduknya tidak ditimpa bencana. Lalu keluarlah pemuda tersebut dari kampunganya dan sampai di suatu kawasan yang luas, dimana tidak seekor burung atau manusiapun hidup.
Selang beberapa hari pemuda itu jatuh sakit. Merintihlah ia seorang diri, lalu berkata: "Wahai Tuhanku, kalaulah ibuku, ayahku dan isteriku berada di sisiku sudah tentu mereka akan menangis melihat waktu akan memisahkan aku dengan mereka (mati). Andaikata anak-anakku ada di sisiku pasti mereka berkata: "Ya Allah, ampunilah ayah kami yang telah banyak melakukan kejahatan sehingga ia diusir dari kampungnya ke tanah lapang yang tidak berpenghuni dan keluar dari dunia menuju akhirat dalam keadaan putus asa dari segala sesuatu kecuali rahmatMu ya Allah".
Terakhir kali pemuda itu berkata, "Ya Allah, janganlah Engkau putuskan aku dari rahmatMu, sesungguhnya Engkau Maha Berkuasa terhadap sesuatu",. Setelah berkata demikian, matilah pemuda itu.
Kemudian Allah mewahyukan kepada Nabi Musa, firmannya, "Pergilah kamu ke tanah lapang di sana ada seorang waliKu yang telah meninggal. Mandikan, kafankan dan sembahyangkanlah dia". Setiba di sana Nabi Musa mendapati yang mati itu adalah pemuda yang diusirnya dahulu. Lalu Nabi Musa berkata, "Ya Allah, bukankah dia ini pemuda fasik yang Engkau suruh aku usir dahulu". Allah berfirman, "Benar, Aku kasihan kepadanya karena rintihan sakitnya dan berjauhan dari keluarganya. Apabila seseorang yang tidak mempunyai saudara mati, maka semua penghuni langit dan bumi akan sama menangis karena kasihan kepadanya. Oleh karena itu bagaimana Aku tidak mengasihaninya sedangkan Aku adalah Dzat Yang Maha Penyayang di antara penyayang".
Read more »»  
بِسْــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيم


 Pendeta yang Insaf

Ibrahim Al Khawas ialah seorang wali Allah yang terkenal keramat dan dimakbulkan segala doanya oleh Allah. Beliau pernah menceritakan suatu peristiwa yang pernah dialaminya. Katanya, "Menurut kebiasaanku, aku keluar menziarahi Makkah tanpa kendaraan dan kafilah. Pada suatu waktu, tiba-tiba aku tersesat dan kemudian aku bertemu dengan seorang rahib Nasrani (Pendeta Kristian) ". Ketika dia melihatku dia pun berkata, "Wahai rahib Muslim, bolehkah aku bersahabat denganmu?".
Ibrahim segera menjawab, "Ya, tidaklah aku akan menghalangi kehendakmu itu". Maka berjalanlah Ibrahim bersama dengannya selama tiga hari tanpa meminta makanan sehingga rahib itu menyatakan rasa laparnya kepadaku, katanya, "Tidaklah aku ingin memberitahukan padamu bahwa aku telah menderita kelaparan. Karena itu berilah aku sesuatu makanan yang ada padamu".
Mendengar permintaan rahib itu, lantas Ibrahim pun memohon kepada Allah dengan berkata, "Wahai Tuhanku, Pemimpinku, Pemerintahku, janganlah engkau mempermalukan aku di hadapan seteru engkau ini".
Belum selesai Ibrahim berdoa, tiba-tiba turunlah hidangan dari langit berisi dua keping roti, air minum, daging masak dan tamar. Maka mereka pun makan dan minum bersama-sama. Sesudah itu aku pun meneruskan perjalananku. Setelah tiga hari tanpa makanan dan minuman, dikala pagi, aku pun berkata kepada rahib itu, "Hai rahib Nasrani, berikanlah kepadaku sesuatu makanan yang ada padamu". Rahib itu menghadap kepada Allah, tiba-tiba turun hidangan dari langit seperti yang diturunkan kepadaku dulu".
Sambung Ibrahim lagi, tatkala aku melihat yang demikian itu, maka aku pun berkata kepada rahib itu "Demi kemuliaan dan ketinggian Allah, tiadalah aku makan sehingga engkau memberitahukan (hal ini) kepadaku". Jawab rahib itu, "Hai Ibrahim, tatkala aku bersahabat denganmu, maka aku mengenal kemuliaanmu, lalu akupun memeluk agama engkau. Sesungguhnya aku telah membuang-buang masa di dalam kesesatan dan sekarang aku telah mendekati Allah dan berpegang kepadaNya. Dengan kemuliaan engkau, tiadalah Allah mempermalukan aku. Maka terjadilah kejadian yang engkau lihat sekarang ini. Aku telah mengucapkan seperti ucapanmu (kalimah Syahadah)".
"Maka gembiralah aku setelah mendengar jawaban rahib itu. Kemudian aku pun meneruskan perjalanan sehingga sampai di Makkah Al Mukarramah. Setelah kami mengerjakan haji, maka kami tinggal dua tiga hari lagi di tanah suci itu. Suatu ketika, rahib itu tidak kelihatan olehku, lalu aku mencarinya di Masjidil Haram, tiba-tiba aku mendapatinya sedang bersembahyang di sisi Ka’bah". Setelah rahib itu selesai bersembahyang maka dia pun berkata, "Hai Ibrahim, sesungguhnya sudah dekat perjumpaanku dengan Allah, maka jagalah olehmu persahabatan dan persaudaraanku denganmu".
Setelah dia berkata begitu, tiba-tiba dia menghembuskan nafas terakhirnya. Seterusnya Ibrahim menceritakan, "Maka aku merasa amat berduka atas kepergiannya. Aku segera mengurus jenazahnya dan pemakamannya. Ketika tidur aku bermimpi melihat rahib itu dalam keadaan yang begitu elok sekali tubuhnya, dihiasi dengan pakaian sutera yang indah". Melihat hal itu, Ibrahim pun terus bertanya, "Bukankah engkau sahabatku, apakah yang telah dilakukan oleh Allah terhadap engkau?".
Dia menjawab, "Aku berjumpa dengan Allah dengan dosa yang banyak, tetapi dimaafkan dan diampuniNya semua itu karena aku berprasangka baik kepadaNya dan Dia menjadikan aku seolah-olah bersahabat dengan engkau di dunia dan bertetangga dengan engkau di akhirat".
Begitulah persahabatan diantara dua orang yang berpengetahuan dan beragama sehingga memperoleh hasil yang baik. Walaupun orang tersebut dulunya beragama lain, tetapi berkat keikhlasan dan pengabdiannya kepada Allah, dia ditunjukkan pada agama Islam dan bisa mendalami ajaran-ajarannya".

Read more »»  
بِسْــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيم


Awan yang Mengikuti Orang Bertaubat

Diriwayatkan bahwa seorang tukang jagal (penyembelih binatang) terpesona kepada budak tetangganya. Suatu saat gadis itu mendapat tugas menyelesaikan urusan keluarganya di desa lain. Si tukang jagal lalu mengikutinya dari belakang sampai akhirnya berhasil mendapatkannya. Si tukang jagal lalu memanggil gadis itu dan mengajaknya menikmati kesempatan langka dan indah itu. Tetapi gadis itu menjawab, "Jangan lakukan. Meskipun aku sangat mencintaimu, tetapi aku sangat takut kepada Allah".
Mendengar jawaban itu, si tukang jagal merasa dunia berputar. Karena menyesal dan sadar, hatinya gemetar, tenggorokannya kering dan hatinya semakin berdebar, dia lalu berkata, "Kau takut kepada Allah sedangkan aku tidak".
Dia pulang sambil bertaubat. Ketika berada di jalan ia diserang rasa haus dan nyaris mati. Ia kemudian bertemu dengan seorang yang sholeh dan mereka berjalan bersama. Mereka melihat gumpalan awan berjalan menaungi mereka berdua, sampai mereka masuk ke sebuah desa. Mereka berdua yakin bahwa awan itu untuk orang yang sholeh. Kemudian mereka berpisah di desa tersebut. Awan itu ternyata condong dan terus menaungi si tukang jagal sampai dia tiba di rumahnya. Orang sholeh tadi heran melihat kenyataan ini. Dia lalu mengikuti tukang jagal tadi lantas bertanya kepadanya dan dijawabnya pula di tempat itu. Maka laki-laki sholeh itu berkata, "Janganlah heran terhadap apa yang kau lihat, karena orang yang bertaubat kepada Allah itu berada di suatu tempat yang tak seorang pun berada di situ".
Read more »»  

Selasa, 03 April 2012

بِسْــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيم


Al-Imam Al-Mujaddid Al-‘Allamah Murtadha Al-Husayni Al-Zabidi: Istilah “Ahli Sunnah dan Jama’ah” adalah bagi Al-Asha’irah dan Al-Maturidiyyah

Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam,

Sholawat dan Salam atas Rasulullah SAW, Rohmat ke seluruh alam,

Juga kepada ahli keluarga dan para sahabat r.a. yang telah bertebaran di alam semesta ini;

1. Dalam penulisan kali ini, penulis membawa sebuah tema yang baru bagi penulisan dalam hal ini. Tema tersebut ialah “Mempertahankan Al-Asha’irah”. Ini adalah karena penulis melihat beberapa penulisan yang diterbitkan oleh majalah-majalah tertentu telah mulai menyerang ulama’ Al-Asha’irah dengan tuduhan-tuduhan yang sangat berat.
2. Sebagai contoh, sebuah artikel terbaru di dalam Majalah-i [Bil. 73, November 2008] dengan secara terang-terangan meletakkan ulama’ Al-Asha’irah (atau Al-Ash’ariyyah) sebagai salah satu “kelompok Ahli Bid’ah.” Lihat muka surat 19. [Penulis akan scan artikel tersebut kemudian].
3. Penulis tidak heran dengan tuduhan dan tohmahan yang sangat berat ini terhadap ulama’ Al-Asha’irah karena dendam golongan bid’ah terhadap Al-Asha’irah memang telah lama diketahui. Namun, penulis begitu sedih apabila tuduhan seperti ini dimuat di dalam majalah-majalah yang menjadi bacaan masyarakat awam dan pihak yang bertanggungjawab tidak memantau hal ini dengan hati-hati.
 WAHAI JABATAN, MAJLIS ULAMA DAN PEGAWAI-PEGAWAI YANG BERKUASA!
INGATLAH JAWATAN-JAWATAN YANG ANTUM SEMUA PEGANG ITU MEMPUNYAI TANGGUNGJAWAB YANG SANGAT BESAR DAN AKAN DIHISAB DI HARI AKHIRAT KELAK!
DI MANAKAH ANTUM SEMUA SEWAKTU ULAMA’ ISLAM DIHINA OLEH GOLONGAN AHLI BID’AH?!!!
DI MANAKAH ANTUM SEMUA SEWAKTU AHLI BID’AH MENYEBARKAN FAHAM MEREKA DI TENGAH-TENGAH MASYARAKAT AWAM?!!!
4.Ulama’ Al-Asha’irah dan Al-Maturidiyyah telah diberi taufiq oleh Allah SWT untuk menghancurkan golongan-golongan ahli bid’ah seperti Muktazilah, Jahmiyyah, Jabariyyah, Qadariyyah, Hashawiyyah/Mushabbihah/Mujassimah, dll apabila golongan ini mulai muncul pada akhir-akhir kurun ke-3 hijriah dan awal kurun ke-4 hijriah. Barang siapa yang mengkaji sejarah Islam pasti tidak dapat menolak hakikat ini dan para ulama Al-Asha’irah dan Al-Maturidiyyah adalah penyelamat aqidah umat ini. Insya-Allah, suatu masa nanti, penulis akan menguraikan sejarah Ulama’ Al-Asha’irah dan al-Maturidiiyah secara terperinci.
5. Bagi menolak tuduhan yang sangat buruk ini, penulis membawa kata-kata al-Imam al-Mujaddid al-Allamah Murtadha al-Husayni al-Zabidi daripada kitabnya yang sangat masyhur: “Ittihaf al-Sadah al-Muttaqin”. Kitab ini adalah syarahan bagi kitab “Ihya’ Ulumiddin” karya al-Imam al-Mujaddid al-Ghazali. Hadits-hadits di dalam kitab “Ihya’ Ulumiddin” telah ditakhrij oleh al-Imam al-Mujaddid al-Hafidh Nuruddin al-‘Iraqi.
 Ketahuilah wahai pembaca sekalian:
KITAB IHYA’ ULUMIDDIN DITULIS OLEH SEORANG MUJADDID (IMAM AL-GHAZALI), DITAKHRIJ HADITSNYA OLEH SEORANG MUJADDID (AL-HAFIDH NURUDDIN AL-‘IRAQI) DAN DISYARAH OLEH SEORANG MUJADDID JUA (AL-IMAM MURTADHA AL-ZABIDI).
Maka berpeganglah dengan kitab-kitab ini.

Terjemahan (Ittihaf al-Sadah al-Muttaqin):
“ Dan apabila disebutkan istilah “Ahli Sunnah dan Jama’ah” secara mutlak/umum, maka golongan yang dimaksudkan ialah (ulama’) Al-Asha’irah dan Al-Maturidiyyah.

Berkata Imam Al-Khayyali di dalam Hashiyahnya bagi (kitab) Syarh al-Aqa’id: Al-Asha’irah itu adalah Ahli Sunnah dan Jama’ah dan istilah ini masyhur di negeri-negeri Khurasan, Iraq, Sham dan di kebanyakan tempat.
Dan (manakala) di negara-negara Balkan (istilah Ahli Sunnah dan Jamaah) itu digunakan bagi Al-Maturidiyyah, para ulama’ yang mengikut manhaj Abu Mansur (al-Maturidi), dan di antara dua golongan ini perbedaan pendapat dalam beberapa perkara seperti isu al-Takwin dan lain-lainnya. (Selesai).”
Uraian:
6. Lihatlah betapa jelasnya bahawa istilah Ahli Sunnah dan Jama’ah itu adalah sebenarnya merujuk kepada ulama’ al-Asha’irah dan al-Maturidiyyah. Perbedaan di kalangan al-Asha’irah dan al-Maturidiyyah adalah bukan dalam perkara-perkara pokok. Insya-Allah, penulis akan memberi penerangan mengenai perkara-perkara perbedaan ini di masa akan datang.
 7.Namun begitu, kita melihat golongan Wahabi (atau yang sering mendakwa diri mereka sebagai Salafi atau Muwahhidun atau Firqah Najiyah atau Gerakan Islah dan Tajdid) coba “merompak” istilah ini untuk mereka dan mengelirukan orang awam bahwa istilah al-Asha’irah dan istilah Ahli Sunnah dan Jama’ah adalah bertentangan.
8. Kejahilan mengenai hakikat dan kedudukan ulama’ Al-Asha’irah ini bukan saja tidak diketahui kebanyakan masyarakat awam, bahkan para penuntut ilmu agama dan para ustadz juga masih banyak yang masih keliru di dalam isu ini.
9. Penulis sentiasa menasihati diri sendiri dan para pembaca agar sentiasa memohon petunjuk kepada Allah SWT dan berpeganglah dengan majoriti ulama’ dan di dalam bidang aqidah, majoriti ulama’ adalah al-Asha’irah dan al-Maturidiyyah.
Sabda Rasulullah SAW: “Sesungguhnya (ulama’) umatku tidak akan bersepakat di dalam kesesatan.



Read more »»  
بِسْــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيم

Poto Bingkai Habaib 


Read more »»  
بِسْــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيم



Bagingda Nabi Muhammad SAW dan pengemis yahudi yang buta

Di sudut pasar Madinah Al-Munawarah seorang pengemis Yahudi buta hari demi hari apabila ada orang yang mendekatinya ia selalu berkata “Wahai saudaraku jangan dekati Muhammad, dia itu orang gila, dia itu pembohong, dia itu tukang sihir, apabila kalian mendekatinya kalian akan dipengaruhinya”.
Setiap pagi Rasulullah s.a.w mendatanginya dengan membawa makanan, dan tanpa berkata sepatah kata pun Rasulullah s.a.w menyuap makanan yang dibawanya kepada pengemis itu walaupun pengemis itu selalu berpesan agar tidak mendekati orang yang bernama Muhammad. Rasulullah s.a.w melakukannya hingga menjelang Nabi Muhammad s.a.w  wafat. Setelah kewafatan Rasulullah s.a.w tidak ada lagi orang yang membawakan makanan setiap pagi kepada pengemis Yahudi buta itu.
Suatu hari Abubakar r.a berkunjung ke rumah anaknya Aisyah rha. Beliau bertanya kepada anaknya, “Anakku adakah sunnah kekasihku yang belum aku kerjakan”, Aisyah rha menjawab pertanyaan ayahnya, “Wahai ayah engkau adalah seorang ahli sunnah hampir tidak ada satu sunnah pun yang belum ayah lakukan kecuali satu sunnah saja”. “Apakah itu?”, tanya Abu bakar ra. Setiap pagi Rasulullah s.a.w selalu pergi ke ujung pasar dengan membawakan makanan untuk seorang pengemis Yahudi buta yang berada di sana”, kata Aisyah rha.
Keesokan harinya Abu bakar ra pergi ke pasar dengan membawa makanan untuk diberikannya kepada pengemis itu. Abu bakar ra mendatangi pengemis itu dan memberikan makanan itu kepada nya. Ketika Abu bakar ra mulai menyuapinya, si pengemis marah sambil berteriak, “Siapakah kamu ?”. Abu bakar ra menjawab, “Aku orang yang biasa”. “Bukan !, engkau bukan orang yang biasa mendatangiku”, jawab si pengemis buta itu. Apabila ia datang kepadaku tidak susah tangan ini memegang dan tidak susah mulut ini mengunyah. Orang yang biasa mendatangiku itu selalu menyuapiku, tapi terlebih dahulu dihaluskannya makanan tersebut dengan mulutnya setelah itu ia berikan pada ku dengan mulutnya sendiri”, pengemis itu melanjutkan perkataannya.
Abu bakar ra tidak dapat menahan air matanya, ia menangis sambil berkata kepada pengemis itu, aku memang bukan orang yang biasa datang pada mu, aku adalah salah seorang dari sahabatnya, orang yang mulia itu telah tiada. Ia adalah Muhammad Rasulullah s.a.w Setelah pengemis itu mendengar cerita Abu bakar ra ia pun menangis dan kemudian berkata, benarkah demikian?, selama ini aku selalu menghinanya, memfitnahnya, ia tidak pernah memarahiku sedikitpun, ia mendatangiku dengan membawa makanan setiap pagi, ia begitu mulia. Pengemis Yahudi buta tersebut akhirnya bersyahadat dihadapan Abu bakar ra..subhanallah..
Read more »»  

Senin, 02 April 2012

BIOGRAFI SINGKAT SYECH ABDURAHMAN ADDIBA'I

بِسْــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيم


Salah satu karya kitab maulid yang sangat masyhur dalam dunia Islam ialah kitab maulid yang dikarang oleh seorang ulama besar dan ahli hadits yaitu:
Imam Wajihuddin ‘Abdur Rahman bin Muhammad bin ‘Umar bin ‘Ali bin Yusuf bin Ahmad bin ‘Umar ad-Diba`ie asy-Syaibani al-Yamani az-Zabidi asy-Syafi`i.
Beliau dilahirkan pada tanggal 4 bulan Muharram tahun 866 H. dan wafat hari Jumaat 12 Rajab tahun 944 H. Beliau adalah seorang ulama hadits yang terkenal dan tiada tolak bandingnya pada masa hayatnya. Beliau mengajar kitab Shohih Imam al-Bukhari lebih dari 100 kali khatam. Beliau mencapai derajat/pangkat Hafiz dalam ilmu hadits yaitu seorang yang menghafal 100,000 hadits dengan sanadnya. Setiap hari beliau selalu mengajar hadits dari masjid ke masjid. Di antara guru-gurunya ialah Imam al-Hafiz as-Sakhawi, Imam Ibnu Ziyad, Imam Jamaluddin Muhammad bin Ismail, mufti Zabid, Imam al-Hafiz Tahir bin Husain al-Ahdal dan ramai lagi. Selain daripada itu, beliau juga seorang muarrikh, yakni ahli sejarah, yang terbilang. Di antara kitab karangannya ialah:-
· “Taisirul Wusul ila Jaami`il Usul min Haditsir Rasul” yang mengandungi himpunan hadits yang dinukil daripada kitab hadits yang 6.
·  ”Tamyeezu at-Thoyyib min al-Khabith mimma yaduru ‘ala alsinatin naasi minal hadits” sebuah kitab yang membezakan hadits sahih dari selainnya seperti dhaif dan maudhu.
·  ”Qurratul ‘Uyun fi akhbaril Yaman al-Maimun”.
· “Bughyatul Mustafid fi akhbar madinat Zabid”.
· “Fadhail Ahl al-Yaman”.

Read more »»  

BIOGRAFI IMAM SYAFI'I ra.

بِسْــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيم


Imam Syafi’i yang dikenal sebagai pendiri madzhab Syafi’i memiliki nama lengkap Muhammad bin Idris As Syafi’i Al Quraisy. Beliau dilahirkan di daerah Ghazzah, Palestina pada tahun 150 H di bulan Rajab.
 Nasab Imam Syafi’i 
  Beliau bernama Muhammad bin Idris bin Abbas bin Utsman bin Syafi’i bin Saib bin Abdu Yazid bin Hasyim bin Abdullah bin Abdu Manaf. Kun-yah (panggilan kehormatan) beliau adalah Abu Abdullah (bapaknya Abdullah) dikarenakan salah seorang anak beliau yang bernama Abdullah. Nasab Imam Syafi’i bertemu dengan nasab Rasulullah Shalallahu alahi wa salam (SAW) pada Abdu Manaf. Sedangkan Hasyim kakek Imam Syafi’i bukanlah kakek dari Rasulullah SAW.
 Diriwayatkan bahwa ketika beberapa hari setelah ibunda Imam Syafi’i melahirkan terdengar kabar dari Baghdad tentang meninggalnya Imam Abu Hanifah. Tatkala diteliti dengan seksama ternyata hari meninggalnya Imam Abu Hanifah bertepatan dengan saat lahirnya Imam Syafi’i. Para ulama waktu itu mengisyaratkan bahwa Muhammad yang baru lahir kelak akan mengikuti derajat keilmuan Imam Abu Hanifah.
 Hadits Rasulullah SAW yang mengisyaratkan kedatangan Imam Syafi’i 
            Para ulama telah menelaah sejumlah hadits dari Rasulullah SAW berkenaan dengan kegembiraan Rasulullah SAW kepada Imam Syafi’i.
            Hadits dari Ibnu Mas’ud beliau berkata: “Rasulullah SAW telah bersabda: janganlah kamu mencaci-maki Quraisy karena orang alim Quraisy itu ilmunya akan memenuhi bumi. Ya Allah, Engkau telah memberi siksaan pada awal Quraisy, maka berilah anugerah pada akhir Quraisy.”
            Hadits dari Ali bin Abi Thalib beliau berkata: “Rasulullah SAW telah bersabda: jangan kamu mengimami orang Quraisy dan bermakmumlah kamu pada mereka. Jangan mendahului Quraisy akan tetapi dahulukanlah mereka. Jangan kamu mengajari Quraisy tetapi belajarlah dari mereka karena ilmu orang alim Quraisy akan menyebar ke seluruh dunia,”
 Kesungguhan Imam Syafi’i dalam menuntut ilmu
Meskipun dibesarkan dalam keadaan yatim dan kondisi keluarga yang miskin, tidak menjadikan beliau rendah diri apalagi malas. Sebaliknya, keadaan itu membuat beliau makin giat menuntut ilmu. Pada umur 7 tahun beliau telah hafal Al Quran seluruhnya. Beliau banyak berdiam di Masjid al-Haram dimana beliau menuntut ilmu pada ulama-ulama dalam berbagai bidang ilmu. Beliau mencatat ilmu-ilmu yang telah diperolehnya pada kertas-kertas, kulit dan tulang binatang. Hingga pada suatu hari kamar tempat istirahatnya penuh oleh kertas, kulit dan tulang. Maka seluruh catatan pada benda-benda itu dihafal oleh Imam seluruhnya, lalu setelah itu benda-benda tersebut dibakarnya. 
Kekuatan hafalan Imam Syafi’i   sangat mencengangkan. Sampai-sampai seluruh kitab yang dibaca dapat dihafalnya. Ketika beliau membaca satu kitab beliau berusaha menutup halaman yang kiri dengan tangan kanannya karena khawatir akan melihat halaman yang kiri dan menghafalnya terlebih dahulu sebelum beliau hafal halaman yang kanan. 
 Mengenai hal ini beliau bercerita: bahwa beliau pernah bermimpi bertemu Rasulullah SAW dan Rasulullah SAW berkata kepadanya: “Siapa kamu hai anak muda?”  Imam Syafi’i berkata. : “aku termasuk umatmu, ya Rasulullah”  Rasul berkata: “mendekatlah padaku.”  Imam Syafi’i lalu mendekat kepada Rasulullah SAW, lalu Rasul mengambil air liurnya dan meletakkan air liur itu ke dalam mulut dan bibir Imam Syafi’i. setelah itu Rasulullah SAW berkata padanya: “ berangkatlah, semoga Allah memberkahimu.”  Setelah mimpi itu beliau tak pernah merasa kesulitan dalam menghafal ilmu. 
Beliau juga telah mencapai kemampuan berbahasa yang sangat indah. Kemampuan beliau dalam menggubah syair dan ketinggian mutu bahasanya mendapat pengakuan dan penghargaan yang sangat tinggi oleh orang-orang alim yang sejaman dengan beliau. 
Demikian tinggi prestasi-prestasi keilmuan yang telah beliau capai dalam usia yang masih sangat belia, sehingga guru-gurunya membolehkan beliau untuk berfatwa di Masjid al-Haram. Ketika itu beliau bahkan baru mencapai usia 15 tahun.
 Kepergian Imam Syafi’i ke Madinah
            Imam Syafi’i hidup sejaman dengan Imam Malik bin Anas, seorang ulama besar pendiri madzhab Maliki. Imam Malik bin Anas juga dikenal sebagai Ahli Hadits. Beliau menghimpun hadits-hadits nabi dalam kitab beliau yang berjudul Muwattha’. Imam Syafi’i pernah meminjam kitab Muwattha’ pada salah seorang penduduk Mekkah dan menghafalnya dalam waktu singkat. Imam Syafi’i rindu untuk melihat Imam Malik di Madinah Al Munawwarah dan berharap dapat mengambil manfaat dari ilmu beliau.
            Maka pada suatu hari berangkatlah Imam Syafi’i ke Madinah dengan niat untuk menuntut ilmu. Dalam perjalanan dari Mekkah menuju Madinah beliau mengkhatamkan bacaan Al Qur’an sebanyak 16 kali. Malam satu kali khatam dan siangnya satu kali. Pada hari ke delapan beliau tiba di Madinah setelah shalat ashar. Beliau shalat di Masjid Nabawi dan berziarah terlebih dahulu ke makam Rasulullah SAW. Setelah itu baru beliau menuju kediaman Imam Malik bin Anas.
            Ketika Imam Syafi’i menghadap Imam Malik, beliau berkata: “mudah-mudahan Allah selalu memberimu kebaikan. Aku adalah seorang penuntut ilmu. Kondisi dan ceritaku begini dan begini…”
            Mendengar perkataan itu Imam Malik merasa kasihan dan bertanya kepadanya: “siapa namamu?” Imam Syafi’i  menjawab: “Muhammad.” Imam Malik berkata kepadanya; “wahai Muhammad, bertaqwalah kepada Allah, hindarilah maksiat. Aku melihat di hatimu ada cahaya. Karena itu janganlah kamu padamkan cahaya itu dengan maksiat. Sesungguhnya cahaya itu akan menjadikanmu dibutuhkan oleh manusia. “ Imam Syafi’i menjawab: “ya.” Imam Malik lalu berkata: “kalau besok kamu masih ada, kami akan mengajarkanmu kitab Muwattha’.”
 Imam Syafi’i berkata: “wahai tuanku, aku telah membaca kitab Muwattha’ sampai hafal.” Imam Malik berkata: “bacalah!” lalu Imam Syafi’i membaca dan Imam Malik menyimaknya. Ketika Imam Syafi’i khawatir Imam Malik lelah, maka beliau berhenti. Dan Imam Malik lalu berkata: “teruskan wahai anak muda, aku akan memperbaiki bacaanmu.” Demikianlah, maka aktivitas harian Imam Syafi’i adalah membaca kitab Muwattha’ dibawah bimbingan Imam Malik.
            Beliau pun selalu hadir di majlis ilmu Imam Malik yang menerangkan tentang hadits-hadits Rasulullah SAW. Imam Malik memuji kuatnya hafalan dan keluasan pemahaman Imam Syafi’i terhadap ilmu yang dipelajarinya. Seringkali sehabis membacakan kitabnya, Imam Malik meminta Imam Syafi’i untuk menyampaikannya kepada orang lain. Imam Malik juga sering memberikan hadiah kepada sang murid sebagai wujud rasa cinta dan perhatian beliau kepadanya.
            Demikian juga Imam Syafi’i begitu mencintai gurunya dengan sepenuh hati. Beliau berkata: “Malik bin Anas adalah guruku. Dari beliau aku belajar dan tidak ada orang yang aku percaya kecuali Malik bin Anas. Dan aku menjadikan Malik bin Anas sebagai hujjah (saksi) antara aku dan Allah.”
 Kepergian Imam Syafi’i ke Iraq
            Pada waktu Imam Syafi’i telah menyelesaikan pelajarannya pada Imam Malik, beliau mendengar kabar tentang Abu Yusuf dan Muhammad bin Hasan yang adalah murid sekaligus sahabat Imam Abu Hanifah yang sedang berada di Iraq yaitu di kota Kufah. Beliau ingin sekali bertemu dengan mereka berdua. Maka Imam Syafi’i lantas memohon izin kepada Imam Malik untuk pergi ke Iraq. Imam Malik memberi tambahan bekal kepada beliau dan menyewakannya hewan tunggangan menuju kota Kufah.
             Di Kufah, begitu berjumpa dengan Abu Yusuf  dan Muhammad bin Hasan, mereka berdua sangat gembira dengan kedatangan Imam Syafi’i. Mereka bertanya kepada beliau tentang Imam Malik bin Anas. Beliau berkata: “aku telah datang kepadanya.” Salah satu dari keduanya berkata: “apakah kamu melihat kitab Muwattha’?” Imam Syafi’i menjawab: “aku telah menghafal kitab tersebut dalam lubuk hatiku.”
            Itu semua telah membuat Muhammad bin Hasan dan Abu Yusuf menaruh hormat kepada Imam Syafi’i. Muhammad bin Hasan lalu bertanya kepada beliau tentang masalah thaharah, zakat, jual beli, dan masalah lainnya yang dijawab dengan jawaban yang sangat bagus oleh Imam Syafi’i. Bertambah kagumlah Muhammad bin Hasan pada beliau. Kemudian ia mengajak Imam Syafi’i ke rumahnya dan mengizinkan Imam Syafi’i untuk menyalin kitab apa saja yang dia inginkan yang ada di perpustakaan miliknya.
            Selama di Kufah, Imam Syafi’i menjadi tamu Muhammad bin Hasan. Ketika beliau telah selesai mempelajari kitab-kitab di perpustakaan Muhammad bin Hasan, beliau lantas mohon izin untuk meneruskan perjalanan menuju Persia dan kota-kota disekitarnya.
              Kembali ke Madinah

 Ketika beliau di kota Romlah ada serombongan orang Madinah datang. Beliau bertanya tentang keadaan guru beliau, Imam Malik bin Anas. Mereka menjawab bahwa Imam Malik dalam keadaan sehat. Imam Syafi’i merasa rindu dan ingin sekali berjumpa dengan guru yang sangat dicintainya itu. Maka beliau pun mempersiapkan diri untuk perjalanan menuju ke Madinah.
  Sampai di Madinah, setelah berziarah ke makam Rasulullah SAW, beliau lantas menuju pengajian Imam Malik. Ketika Imam Malik mengetahui kehadiran Imam Syafi’i, beliau memanggilnya dan memeluknya dengan penuh kerinduan. Murid-murid Imam Malik yang lain merasa terharu melihat peristiwa ini. Imam Malik lalu membawa Imam Syafi’i duduk disisinya. Beliau berkata: “ajarilah ini, wahai Syafi’i.” Setelah menyelesaikan pelajaran itu, Imam Malik mengajak Imam Syafi’i ke rumahnya.
   Imam Syafi’i tinggal selama beberapa tahun di Madinah. Selama itu beliau senantiasa mendapat perlakuan yang istimewa dan sangat diperhatikan oleh gurunya. Pada bulan Rabi’ul awwal tahun 179 H Imam Malik bin Anas wafat dan dimakamkan  di pemakaman Baqi’ di kota Madinah. Seluruh penduduk Madinah tenggelam dalam duka cita karena meninggalnya Imam yang sangat alim dan mulia ini.
Setelah wafatnya Imam Malik, Imam Syafi’i masih tinggal beberapa lama di Madinah. Beliau kemudian pergi ke Yaman, menetap dan mengajarkan ilmunya di sana.
 Berita tentang keluasan ilmu beliau segera saja menyebar ke seluruh negeri. Orang berduyun-duyun datang untuk menyimak pelajaran yang beliau sampaikan. Ketinggian ilmu dan ma’rifahnya, baik itu dibidang fiqh, hadits, filsafat, kedokteran, ilmu falak dan lain-lain membuat khalifah Harun al-Rasyid mengundang beliau dan meminta beliau untuk mengajar di kota Baghdad. Sejak saat itu beliau dikenal secara luas dan lebih banyak lagi orang yang datang menuntut ilmu padanya. Pada waktu itulah madzhab beliau mulai dikenal. Imam Syafii mengajar banyak orang yang kelak sebagian dari mereka menjadi ulama-ulama yang besar pula. Diantara murid-murid beliau yaitu Imam Ahmad bin Hanbal yang kelak dikenal sebagai salah seorang Imam madzhab juga. 
Semua orang, baik dari kalangan pejabat maupun rakyat sangat mencintai dan mengagungkan kedudukan Imam Syafi’i. Demikian pula murid-murid beliau begitu menaruh hormat padanya. Ini terbukti ketika Imam Ahmad bin Hanbal sakit dan Imam Syafi’i membesuknya. Waktu beliau sampai di rumahnya, Imam Ahmad bin Hanbal langsung turun dari tempat tidurnya dan meminta Imam Syafi’i untuk duduk di tempat itu. Sedangkan Imam Ahmad bin Hanbal duduk di tanah dan sewaktu-waktu beliau bertanya pada Imam Syafi’i. 
Ketika Imam Syafi’i hendak pulang, Imam Ahmad bin Hanbal menaikkan  beliau ke hewan tunggangannya. Lalu Imam Ahmad bin Hanbal naik ke tunggangannya -beliau dalam kondisi sakit- dengan menerobos jalan dan pasar-pasar Baghdad, sampai ia bisa mengantar Imam Syafi’i tiba di rumahnya.

                     Pulang ke Mekkah
  Setelah beberapa waktu berada di Baghdad, beliau bermaksud pulang ke Mekkah. Memakan waktu perjalanan beberapa hari akhirnya beliau sampai di Mekkah. Waktu itu tahun 181 H. Sebelum masuk kota Mekkah, beliau mendirikan kemah di luar kota. Penduduk Mekkah keluar untuk menyampaikan salam dan menyambutnya. Beliau lalu membagi-bagikan seluruh emas dan perak yang beliau miliki kepada mereka. Hal itu dilakukan untuk melaksanakan wasiat ibunya ketika beliau datang ke Mekkah. Begitulah, Imam Syafi’i masuk ke kota Mekkah dalam keadaan tidak membawa apapun, sama seperti ketika beliau keluar dari Mekkah dalam keadaan tidak membawa benda apapun.
Beliau tinggal di Mekkah selama 17 tahun. Selama berada disana beliau mengajarkan ilmu pada manusia. Madzhab Imam Syafi’i tersebar di antara jamaah haji dan mereka membawa madzhab tersebut ke tempat asal mereka masing-masing.
Selama 17 tahun tinggal di Mekkah beliau mendengar wafatnya Abu Yusuf dan Muhammad bin Hasan yang dahulu pernah ditemuinya di kota Kufah. Setelah itu wafat pula Harun al-Rasyid.
Setelah sekian lama tinggal di Mekkah beliau lantas kembali ke kota Baghdad. Disana beliau melanjutkan kegiatan mengajar selama beberapa waktu. Setelah itu beliau bermaksud hendak pergi ke Mesir. Ketika penduduk Baghdad mendengar akan kepergian orang mulia ini, maka mereka keluar untuk perpisahan dengan beliau. Di tengah-tengah penduduk ini ada Imam Ahmad bin Hanbal. Maka diwaktu itu Imam Syafi’i memegang erat tangan Imam Ahmad bin Hanbal dan berkata: “sungguh aku rindu akan bumi Mesir. Selain Mesir adalah bumi yang tandus. Demi Allah, aku tidak tahu untuk kemuliaan atau untuk kaya aku pindah ke Mesir. Atau pindah ke kubur?”
Seakan-akan Imam Syafii merasa akan wafat di Mesir dan kuburannya akan berada di negeri itu. Lalu beliau menangis. Imam Ahmad bin Hanbal dan semua orang yang menyaksikan perpisahan itu menangis semua. Imam Ahmad bin Hanbal pulang sambil bercucuran airmata dan berkata pada para penduduk Baghdad: “ sungguh ilmu fiqh telah tertutup, lalu Allah membukakan ilmu itu dengan kedatangan Imam Syafi’i.”

Menetap di Mesir

 Di negeri Mesir segera saja penduduknya jatuh hati pada Imam Syafi’i. Para ulama negeri itu juga memuliakannya dan meminta beliau untuk mengajar di masjid Amru bin Ash. Beliau mengajar sehabis subuh sampai zhuhur. Imam Syafi’i adalah orang pertama yang mengajar ilmu hadits di Mesir sampai zhuhur. Setelah itu beliau melanjutkan pelajaran di rumahnya.
  Para ulama dan orang-orang jenius terpelajar lainnya datang menyimak pelajaran yang beliau sampaikan baik di masjid maupun di rumah. Di antara orang-orang yang belajar pada beliau yang kelak menjadi ulama terkenal adalah Muhammad bin Abdullah bin Hakam, Abu Ibrahim bin Ismail bin Yahya Al-Muzani, Abu Yaqub Yusuf  bin Yahya Al-Buwaiti, Rabi’ Al-Jizi dan lain sebagainya.
Ketika di Mesir ini pula Imam Syafi’i banyak menulis kitab yang berisi madzhab beliau. Di antara kitabnya adalah Al-Umm, Imla’ al-Shaghir, Jizyah, Ar-Risalah dan lain sebagainya.
 Sebagian dari akhlak Imam Syafi’i

Imam Syafi’i adalah seorang yang taqwa,  zuhud dan wara’. Beliau juga sangat santun dalam memberi peringatan kepada orang yang melakukan kesalahan. Hatinya sangat lembut dan dermawan terhadap harta.
Baihaqi meriwayatkan dari Hasan bin Habib. Dia berkata: “Aku melihat Imam Syafi’i menunggang kuda melewati pasar sepatu. Tiba-tiba cambuknya jatuh dan mengenai salah seorang pedagang sepatu. Lalu pedagang sepatu itu mengusap cambuk untuk membersihkannya dan memberikan cambuk itu pada beliau. Imam Syafi’i lalu menyuruh budaknya untuk memberikan uangnya pada pedagang itu.”
Tiada hari yang dilewati beliau tanpa bershadaqah. Siang dan malam beliau selalu bershadaqah, Apalagi di bulan Ramadhan. Beliau juga sering mengunjungi fakir miskin dan menjamin kebutuhan-kebutuhan mereka. Untuk menafkahi keluarganya beliau berdagang. 
Imam Syafi’i sangat baik dalam memperlakukan kerabat-kerabatnya. Beliau menghormati mereka dan tidak menyombongkan dirinya. Beliau menghormati orang sesuai posisinya. Imam Syafi’i pernah berkata: “Paling zhalimnya orang adalah ia yang menjauhi kerabatnya, tidak mau tahu terhadap mereka, meremehkan dan sombong pada orang yang memiliki keutamaan.”
Beliau juga senantiasa memaafkan orang yang berbuat kesalahan kepadanya. Beliau membalas kejahatan dengan kebaikan dan tidak pernah menyimpan dendam kepada seseorang.

Pujian Imam Ahmad bin Hanbal kepada Imam Syafi’i

Sewaktu di Baghdad, Imam Syafi’i selalu bersama Imam Ahmad bin Hanbal. Demikian cintanya pada Imam Syafi’i, sehingga putra-putri Imam Ahmad merasa penasaran kepada bapaknya itu. Putri Imam Ahmad memintanya untuk mengundang Imam Syafii bermalam di rumah untuk mengetahui perilaku beliau dari dekat. Imam Ahmad bin Hanbal lalu menemui Imam Syafi’i dan menyampaikan undangan itu. 
Ketika Imam Syafi’i telah berada di rumah Ahmad, putrinya lalu membawakan hidangan. Imam Syafi’i memakan banyak sekali makanan itu dengan sangat lahap. Ini membuat heran putri Imam Ahmad bin Hanbal. 
Setelah makan malam, Imam Ahmad bin Hanbal mempersilakan Imam Syafi’i untuk beristirahat di kamar yang telah disediakan. Putri Imam Ahmad melihat Imam Syafi’i langsung merebahkan tubuhnya dan tidak bangun untuk melaksanakan shalat malam. Pada waktu subuh tiba beliau langsung berangkat ke masjid tanpa berwudhu terlebih dulu. 
Sehabis shalat subuh, putri Imam Ahmad bin Hanbal langsung protes kepada ayahnya tentang perbuatan Imam Syafi’i, yang menurutnya kurang mencerminkan keilmuannya. Imam Ahmad yang menolak untuk menyalahkan Imam Syafi’i, langsung menanyakan hal itu kepada Imam Syafi’i. 

Mengenai hidangan yang dimakannya dengan sangat lahap beliau berkata: “Ahmad, memang benar aku makan banyak, dan itu ada alasannya. Aku tahu hidangan itu halal dan aku tahu kau adalah orang yang pemurah. Maka aku makan sebanyak-banyaknya. Sebab makanan yang halal itu banyak berkahnya dan makanan dari orang yang pemurah adalah obat. Sedangkan malam ini adalah malam yang paling berkah bagiku.” 
“Kenapa begitu, wahai guru?”
“Begitu aku meletakkan kepala di atas bantal seolah kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW digelar di hadapanku. Aku menelaah dan telah menyelesaikan 100 masalah yang bermanfaat bagi orang islam. Karena itu aku tak sempat shalat malam.” 
Imam Ahmad bin Hanbal berkata pada putrinya: “inilah yang dilakukan guruku pada malam ini. Sungguh, berbaringnya beliau lebih utama dari semua yang aku kerjakan pada waktu tidak tidur.” 
Imam Syafi’i melanjutkan: “Aku shalat subuh tanpa wudhu sebab aku masih suci. Aku tidak memejamkan mata sedikit pun .wudhuku masih terjaga sejak isya, sehingga aku bisa shalat subuh tanpa berwudhu lagi.” 
Dilain kesempatan Imam Ahmad bin Hanbal pernah berkata: “aku tidak pernah shalat sejak 40 tahun silam kecuali dalam shalatku itu aku berdoa untuk Imam Syafi’i.” 
 Abdullah, putranya lantas bertanya: “wahai ayahku, seperti apa sih Syafi’i, sehingga ayah selalu 
berdoa untuknya?” Imam Ahmad bin Hanbal menjawab: “wahai anakku, Imam Syafi’i bagaikan matahari bagi dunia dan seperti kesehatan bagi tubuh. Lihatlah anakku, betapa pentingnya dua hal itu.”
Abdul Malik bin Abdul Hamid al-Maimuni berkata: “Aku berada di sisi Ahmad bin Hanbal dan beliau selalu menyebut Imam Syafi’i. Aku selalu melihat beliau mengagungkan Imam Syafi’i.”

Wafatnya Imam Syafi’i

Beliau wafat pada malam jum’at akhir dari bulan Rajab tahun 204 H setelah mengalami sakit selama beberapa waktu. Setelah isya ruh beliau yang suci kembali ke Rahmatullah di pangkuan murid beliau, yaitu Rabi’ al-Jizi. Jenazah beliau dimakamkan dengan iringan tangis dan rintih duka cita dari segenap penduduk Mesir.

Diterbitkan Oleh : Majlis Ta'lim Miftahul Khoir 2012








Read more »»  

Minggu, 01 April 2012

Ceramah Detik-detik Wafatnya Baginda Nabi SAW(HB. Jufri)-5

بِسْــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيم


Read more »»  

Ceramah Detik-detik Wafatnya Baginda Nabi SAW(HB. Jufri)-4

بِسْــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيم


Read more »»  

Ceramah Detik-detik Wafatnya Baginda Nabi SAW(HB. Jufri)-3

بِسْــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيم


Read more »»  

Ceramah Detik-detik Wafatnya Baginda Nabi SAW(HB. Jufri)-2

بِسْــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيم


Read more »»  

Ceramah Detik-detik Wafatnya Baginda Nabi SAW(HB. Jufri)-1

بِسْــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيم


Read more »»  

Kisah & Peninggalan Kanjeng Nabi Muhammad SAW-5

بِسْــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيم


Read more »»  

Kisah & Peninggalan Kanjeng Nabi Muhammad SAW-4

بِسْــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيم


Read more »»  

Translate